Membuat ECOBRICK Di SMK Telekomunikasi Telesandi Bekasi

Halo Tels Reader! Dalam rangka menjadikan sekolah yang berbudaya lingkungan SMK Telekomunikasi Telesandi Bekasi mengadakan program pengelolaan sampah dengan metode 3R (reuce, reduce dan recycle) khususnya pengembangan ecobrick.

Sugesti buruk mengenai plastik bekas yang masih dapat digunakan menjadi banyak hal  telah meracuni pikiran kita dan menganggap itu adalah suatu sampah. Ingagt!!!! sampah adalah segala sesuatu yang sudah tidak dapat dimanfaatkan. Plastik adalah suatu polimer yang mempunyai sifat-sifat unik dan luar biasa. Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau belerang. Oleh karena itu pembakar plastik untuk mengurangi jumlah plastik di bumi tidak akan menyelesaikan masalah. Plastik yang dibakar akan mengeluarkan molekul dioxin yang beracun yang selanjutnya dapat dibawa oleh hujan dan dapat meracuni sumber air kita.

Lalu bagaimana cara mengolah plastik yang baik ???

Salah satu caranya adalah dengan cara membuat ecobrick. ECOBRICK adalah bata yang ramah lingkungan yang dapat di manfaatkan setelah botol penuh dan keras, selanjutnya botol – botol tersebut bisa dirangkai dengan lem dan dibentuk menjadi kursi, meja dan bahkan bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuat tembok  atau dinding.  Ecobrick dibuat dengan cara memasukan plastik-plastik bekas kedalam botol bekas hingga padat dan botol menjadi keras. Proses membuat ecobrick agar dapat dimanfaatkan memang tidak sebentar. Dibutuhkan waktu dan materi plastik yang tidak sedikit. Namun perlu proses untuk membuat itulah yang menjadi tantangan. Karya seni yang berkelas tidak dapat dibuat dalam waktu yang sebentar. Oleh karena itulah ecobrick adalah seni pengolahan plastik yang berkelas.

Ecobrick tidak dapat mengurangi jumlah sampah, namun dengan membuat ecobrick plastik bekas dapat diubah menjadi sesuatu benda yang lebih visioner” kata Russell yang merupakan  penggagas pembuatan ecobrick asal Kanada.

Maka dari itu penggunaan harus dikurangi agar jumlah plastik tidak terus meningkat. Jumlah plastik yang terus meningkat tentunya juga akan menambah masalah pada lingkungan. Lingkungan yang bermasalah juga secara otomatis akan berpengaruh terhadap organisme yang berkaitan, termasuk manusia itu sendiri.

Facebook Comments

POST A COMMENT.